
Jumat 24 Zulhijjah 1433 / 9 November 2012 14:01
Oleh, Nazirah

“Bahwa tidak ada bangsa yang lebih pemberani dalam berperang serta fanatik, dibandingkan dengan bangsa Aceh, dan kaum wanita Aceh melebihi kaum wanita bangsa-bangsa lain dalam keberaniaan dan tidak gentar mati, bahkan mereka melampui kaum lelaki yang sudah dikenal bukanlah lelaki yang lemah dalam mempertahankan agama dan cita-cita mereka… Wanita Aceh berjuang sabil Allah, di atas jalan Tuhan, menolak segala macam kompromi, dia tidak bersifat munafik, dan hanya mengenal alternatif ini saja, membunuh musuh atau dibunuh musuh.. Dan adakah suatu bangsa di jagad ini yang tidak menulis dalam buku-buku sejarahnya mengenai gugurnya tokoh-tokoh heroik dengan penghargaan luar biasa?”
H.C. Zentgraaff[1]
“Dengan tatapan tajam, ia berdiri dengan gagah berani, berdiri di balik benteng, Laksamana Malahayati yang didampingi para Laskar Inong Balee menatap nanar penuh kemarahan ke arah selat Malaka. Ribuan kapal Belanda tampak di kejauhan, menyemuti lautan, siap menyerang Aceh. Laksamana Malahayati tak gentar menatap kapal yang dipenuhi ribuan tentara Belanda. Darahnya mendidih, murka. Nalurinya untuk mempertahankan agama dan bangsa kian membuncah. Seketika, perempuan berhati baja nan perkasa ini menghunus rencong dari sarung yang selalu tersampir di pinggangnya.
Dengan nada tegas, beliau memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan kapal perang. Dengan langkah pasti, beliau menaiki kapal perangnya untuk beradu kekuatan melawan tentara kafir Belanda di tengah laut Haru. Sejenak, setelah memejamkan mata, dengan takdzim beliau mengucap “Bismillah”, maka keluarlah perintah dari lisannya untuk menyerang penjajah. Beliau bertekad, kalaupun mati hari ini, syahid yang akan ditemuinya. Ini jihad.. Seketika, takbir pun membahana di seantero bandar Aceh, hingga menusuk relung kalbu.”
Sejarah akan tetap menjadi sejarah yang tidak akan pernah dapat dibungkam. Sejarah bukanlah sesuatu yang hanya membincangkan masa lalu, namun ia merupakan hikmah (inspirasi) untuk masa depan. Maka, perhatikanlah sejarahmu untuk masa depanmu[2].
Sesudah Valentijn[3], maka yang pertama kali menaruh perhatian khusus pada sejarah Aceh adalah William Marsden, dialah yang membawa pulang ke Eropa naskah-naskah Aceh yang pertama dan menyerahkannya kepada perpustakaan King’s College[4]. Dalam bukunya yang berjudul History of sumatera, dia menyampaikan bahwa Aceh merupakan satu-satunya kerajaan di Sumatera yang mencapai kedudukan yang cukup tinggi dalam politik dunia sehingga menjadi pokok pembicaraan dalam sejarah[5].
Tentu hal ini tidak aneh, mengingat pada kurun abad ke-16 sampai ke-17, Banda Aceh menjadi pusat percaturan politik dan ekonomi, tidak saja dalam kawasan Nusantara, melainkan juga dalam rantau Asia Tenggara. Di mana, pada masa ini Aceh menjadi salah satu dari “Lima Besar Kerajaan Islam” yang terikat dalam satu kerjasama ekonomi, politik, militer, dan kebudayaan.
Lima Besar Kerajaan Islam[6] tersebut, yaitu:
Kerajaan Islam Turki Utsmaniyah yang berpusat di Istambul, Asia Minor
Kerajaan Aceh Darussalam di Asia Tenggara
Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara
Kerajaan Isfahan di Timur Tengah
Kerajaan Islam Agra di Anak Benua India
Aceh, sebagai salah satu Propinsi Indonesia yang terletak di ujung Barat Laut Pulau Sumatera, diapit oleh dua laut, yaitu Lautan Indonesia dan Selat Malaka. Secara Astronomis dapat ditentukan bahwa daerah ini terletak antara 950 13’ dan 980 17’ Bujur Timur dan 20 48’ dan 50 40’ Lintang Utara. (JMBRAS, 1879 : 129). Jelas, posisi ini memperlihatkan bahwa Aceh sebagai tempat yang sangat strategis, karena merupakan pintu gerbang lalu-lintas perdagangan dan pelayaran internasional. Dari letaknya yang sangat strategis inilah, maka tidak mengherankan jika pada zaman Kerajaan Aceh, daerah ini banyak dikunjungi oleh berbagai bangsa asing, seperti Cina, Arab, India bahkan Eropa, di mana tujuan kedatangan mereka adalah untuk melakukan suatu transaksi dalam berbagai kepentingan perdagangan, diplomasi, tranformasi ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
Kedatangan berbagai bangsa Asing merupakan hal yang penting bagi perkembangan Aceh itu sendiri, baik secara politis, kultural maupun ekonomis. Namun demikian, di antara bangsa-bangsa asing yang datang tersebut tidak semua memberikan keuntungan bagi Kerajaan Aceh. Hal ini terbukti dengan adanya bangsa yang ingin menguasai daerah untuk kepentingan kolonial dan imperialismenya. Munculnya imperialisme dan kolonialisme menimbulkan antagonisme dan reaksi dari berbagai pihak yang merasa dirugikan. Tidak sedikit kerajaan-kerajaan di Nusantara yang akhirnya harus berperang dengan para kafir penjajah yang mengedepankan semangat imperialisme dan kolonialisme Barat.
Eropa bukanlah kawasan yang paling maju di dunia pada masa ini, juga bukan merupakan kawasan paling dinamis. Akan tetapi, orang-orang Eropa, terutama Portugis, mencapai kemajuan-kemajuan di bidang teknologi tertentu yang kemudian melibatkan bangsa Portugis dalam salah satu petualangan mengarungi samudera. Dengan bekal pengetahuan Geografi dan Astronomi dari bangsa Arab yang seringkali tersebar di kalangan Kristen Eropa lewat para sarjana Yahudi, orang-orang Portugis menjadi mahir dalam melakukan aksi ini. Setelah bangsa Portugis, datanglah orang-orang Belanda yang mewarisi aspirasi-aspirasi dan strategi Portugis. Orang-orang Belanda membawa organisasi, persenjataan, kapal-kapal, dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberanian dan kekejaman yang sama. Tujuan mereka satu, yakni menguasai “Kepulauan Rempah”[7].
Sejarah telah mencatat, bangsa asing pertama yang melakukan kontak dengan Kerajaan Aceh dan kemudian menimbulkan konflik adalah bangsa Portugis. Setelah berhasil menduduki Malaka pada tahun 1511, adalah Afonso de Albuquerque yang memimpin ekspedisi ini, dengan membawa kekuatan kira-kira 1.200 orang, dan 17 atau 18 buah kapal. Peperangan pecah dengan segera setelah kedatangannya dan berlangsung terus secara sporadis. Portugis bermaksud menguasai daerah-daerah lain, termasuk aceh untuk dijadikan sebagai daerah jajahannya. Melihat gerak gerik Portugis yang merugikan tersebut, Aceh sebagai kerajaan besar berusaha untuk melawan dan mengusirnya. Hal ini dilakukan karena kehadiran Portugis sebagai agresor, telah merusak keharmonisan kehidupan dan jaringan perdagangan yang sudah menjadi tradisi di kawasan selat Malaka dan sekitarnya. Konflik Aceh versus Portugis tersebut cukup lama, berlangsung sepanjang abad ke-16 hingga akhir perempat abad ke-17.
Dalam usahanya menghancurkan Armada Portugis di Selat Malaka, Aceh bekerja dengan sama Kerajaan Islam lainnya di Nusantara, salah satu di antaranya adalah Kerajaan Islam Demak di Jawa. Pada tahun 1521 Angkatan Laut Aceh bersama Armada Patiunus (Pangeran Sabrang Lor) menyerang Malaka. Walaupun dalam penyerangan tersebut mengalami kegagalan, Aceh tidak putus asa. Di waktu-waktu selanjutnya, terus dilakukan penyerangan-penyerangan yang menyebabkan Portugis tidak aman di Malaka. Dalam pertempuran laut yang berlangsung cukup lama tersebut, lahirlah para tokoh terkemuka dari kedua belah pihak. Hal ini dapat kita lihat dari karya-karya penulis asing maupun penulis bangsa Indonesia yang melukiskan kepahlawanan dan semangat juang para panglimanya. Tentang sejarah Aceh dapat ditemukan sejumlah nama yang pernah menjadi figur yang pantas untuk diteladani. Salah satu dari tokoh-tokoh pahlawan Aceh di antaranya yaitu Laksamana Keumalamayati, yang secara tradisional disebut oleh orang Aceh dengan nama Malahayati atau Hayati[8].
Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia, pada tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana Angkatan Laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya telah berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani.
Keumalahayati memperoleh kehormatan dan kepercayaan dari Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil (1589- 1604), beliau diangkat menjadi Komandan Protokol lstana Darud-Dunia dari Kerajaan Aceh Darussalam. Jabatan sebagai Komandan Protokol lstana bagi Keumalahayati merupakan jabatan yang tinggi dan terhormat. Jabatan tersebut sangat besar tanggungjawabnya, karena di samping menjadi kepercayaan Sultan, juga harus menguasai soal etika dan keprotokolan, sebagaimana lazimnya yang berlaku di setiap istana kerajaan di manapun di dunia. Bersamaan dengan pengangkatan Keumalahayati sebagai Komandan Protokol Istana, diangkat pula Cut Limpah sebagai Komandan Intelijen Istana (geheimraad)[9]. Karena kesuksesan Keumalahayati dalam menjalani tugas ini, maka Sultan memberikan tugas lain, yaitu tugas untuk mengemban misi sebagai pemimpin pasukan Angkatan Laut.
Kisah kepahlawanan Keumalahayati dimulai ketika terjadi pertempuran laut antara Armada Portugis versus Armada Kerajaan semasa Pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah Al Mukammil. Armada Aceh dipimpin sendiri oleh Sultan dan dibantu dua orang Laksamana. Pertempuran dahsyat yang terjadi di Teluk Haru tersebut berakhir dengan hancurnya armada Portugis, sedangkan di pihak Aceh, kehilangan dua orang Laksamana dan seribu prajuritnya yang syahid. Salah seorang Laksamana yang syahid dalam pertempuran di Teluk Haru itu, adalah suami Keumalahayati yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia.
Kemenangan Armada Selat Malaka Aceh atas Armada Portugis disambut dengan gembira oleh seluruh rakyat Aceh Darussalam. Begitu pula Keumalahayati merasa gembira dan bangga atas kepahlawanan suaminya yang syahid di medan perang. Walaupun dirinya bangga, ia tetap geram dan marah pada Portugis. Maka tidak mengherankan jika ia bersumpah akan terus memerangi Portugis. Maka, untuk melaksanakan niatnya ini, ia mengajukan permohonan kepada Sultan Al Mukammil untuk membentuk Armada Aceh yang prajurit-prajuritnya terdiri dari semua wanita janda, yang suami mereka syahid dalam pertempuran Teluk Haru. Mengingat Keumalahayati adalah seorang prajurit yang cakap dan alumni dari Akademi Militer, maka Sultan pun mengabulkan permohonannya. Untuk itu Keumalahayati diserahi tugas sebagai Panglima Armada dan diangkat menjadi Laksamana.
Adalah Armada yang baru dibentuk tersebut diberi nama Armada Inong Bale (Armada Wanita Janda) dengan mengambil Teluk Krueng Raya sebagai pangkalannya, atau nama lengkapnya Teluk Lamreh Krueng Raya. Di sekitar Teluk Krueng Raya itulah Laksamana Keumalahayati membangun benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan yang tingginya sekitar 100 meter dari permukaan laut. Tembok yang menghadap laut lebarnya 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu Teluk. Benteng yang dalam istilah Aceh disebut Kuta Inong Balee (Benteng Wanita Janda). Setelah terbentuknya Armada Inong Balee yang terdiri dari para janda, maka berikutnya adalah peran Armada ini dalam mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam, Armada ini sangat berjasa dalam menjaga laut Aceh dari penjajahan Portugis dan Belanda yang ingin menguasai wilayah Aceh dan mengambil kekayaan Aceh dengan langkah pertama yang coba dirintis yaitu menguasai laut sebagai jalur transportasi pada saat itu.
Salah satu peristiwa yang mengangkat nama Malahayati adalah peristiwa Cornelis De Houtman[10] bersaudara. Tepatnya tanggal 21 Juni 1599, pasukan Belanda yang dikepalai oleh Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman, diserbu oleh pasukan Inong Balee karena kedua bersaudara yang memimpin pasukannya berkhianat terhadap pemerintahan kerajaan Aceh yaitu dengan menyamarkan kapal perang menjadikannya kapal dagang, oleh sebab itu maka atas kejelian Armada Aceh diketahuilah niat Cornelis de Houtman dan Frederijk de Houtman, sehingga Armada Inong Balee menyerang pasukan penjajah Belanda tersebut. Dalam pertempuran itulah Cornelis de Houtman mati ditikam oleh Laksamana Malahayati dengan rencongnya sedangkan saudaranya Frederijk de Houtman ditawan oleh Armada Inong Balee dan diserahkan pada Kerajaan Aceh Darussalam.
Seorang penulis wanita, Marie van zeggelen, dalam bukunya Oud Glorie, menulis, ”Di kapal Van Leeuw telah dibunuh Cornelis de Houtman dan anak buahnya oleh Laksamana Malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang Frederijk de Houtman dan ditawannya serta dibawa ke darat. Davis dan tomkins menderita luka..” Alhasil, ketangguhan Armada yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati membuat Portugis dan negara Eropa lainnya risih, terlebih karena Armada Inong Balee Aceh telah memiliki seratus buah kapal perang, yang setiap kapal dilengkapi dengan meriam-meriam dan lila-lila. Kapal terbesar dilengkapi dengan lima meriam. Untuk ukuran zaman itu, Armada Inong Balee dipandang sebagai Armada yang kuat di Selat Malaka bahkan di samudera Asia Tenggara[11].
Tidak dapat dipungkiri, bukan hanya kekuatan yang dimiliki oleh para pejuang Aceh dalam melawan imperialisme Portugis dan Belanda. Namun, ada satu hal yang tidak dimiliki oleh para “kaphe (kafir)” penjajah, yakni perintah Tuhan. Seperti apa yang disampaikan oleh H.C. Zentgraaff dalam bukunya yang berjudul Aceh, dia menulis “Orang-orang yang beriman dan berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan Thagut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah. (QS. An-Nisa:76)[12]. Wallahu‘alam bi ash-shawaab.
Penulis adalah Pengajar di Husnayain Boarding School, Sukabumi.
[1] H.C. Zentgraaff. Aceh. Hal: 95
[2] QS. Al-Hasyr: 18
3François Valentijn (17 April 1666–1727) adalah seorang misionaris, naturalis dan penulis buku terkenal berjudul Oud en Nieuw Oost-Indiën (“Old and New East-India”), sebuah buku tentang sejarah Dutch East India Company dan negara-negara Timur Jauh. François Valentijn lahir tahun 1666 di Dordrecht, Belanda di mana ia tinggal akan tetapi aktivitas hidupnya lebih banyak berada di daerah tropis, kepulauan Indonesia terutama berada di Ambon, Kepulauan Maluku, yang sangat dikenalnya. Wikipedia.
[4] Naskah-naskah ini kemudian diserahkan kepada koleksi perpustakaan School of Oriental and African Studies. Denys Lombard. Kerajaan Aceh: Zaman Kesultanan Iskandar Muda (1607-1636). Hal:33
[5] William Marsden. History Sumatera. London: 1974
[6] Prof. Dr. Ismail Suny S.H.M.C.L. Bunga Rampai tentang Aceh. Hal: 208
[7] M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Hal: 41.
[8] (Van Zeggelen, 1935 : 89). H.M. Zainuddin. Tarikh Aceh. 1961. Hal: 294
[9] Pocut Haslinda Syahrul. MD. Perempuan Aceh, Dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI. Hal:56
[10] Cornelis de Houtman memimpin ekspedisi perniagaan Belanda pertama ke Nusantara pada tahun 1595-1597, yang menyatakannya perdagangan langsung dengan Hindia. Namun, dia seorang yang otoriter dan tidak bijaksana. (Robert Cribb dan Audrey Kahin, 2012: 169).
[11] Lihat uraian komprehensif Denys Lombard mengenai Politik Penaklukan dalam bukunya “Kerajaan Aceh Darussalam, Zaman Kesultanan Iskandar Muda (1607-11636) . Hal: 124-145
[12] H.C. Zentgraaf, Aceh. Hal: 379
Tidak ada komentar:
Posting Komentar